Rochman dan Rochim, kembar siam asal Jombang yg lahir pada tanggal 4 September 2009 lalu diserahterimakan secara simbolik kepada kedua orang tuanya Anis Mulyo dan Supinah. Acara yang bertempat di ruang Loka Widya Husada RSUD Dr. Soetomo tanggal 11 Oktober 2018 ini menandakan masa istirahat untuk perawatan Rochman-Rochim di RSUD Dr. Soetomo.

Sejak kelahirannya Rochman telah menjalani 7 kali operasi mulai dari operasi pemisahan dengan saudaranya Rochim hingga yang terakhir operasi pembentukan saluran kencing dengan metode Mitrotanoff. Hal ini diungkapkan oleh dr. Agus Harianto Sp.A(K) selaku ketua Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu (PPKST) RSUD Dr. Soetomo.

“Dengan sistem Mitrotanoff ini, Rochman kalau ingin buang air kecil bisa dilakukan sendiri dengan hanya memasukkan kateter saja” jelas dr. Agus.

Rochman ke depannya saat menginjak usia remaja nantinya juga akan mendapatkan phallus/penis buatan dari tim PPKST RSUD Dr. Soetomo.

“Pembuatan phallus ini akan kita lakukan saat Rochman remaja, kalau dibuat sekarang, nantinya waktu dia remaja akan dibongkar lagi. Jadi akan dilakukan dalam satu kali proses saja waktu dia sudah remaja” tambahnya.

Di acara tersebut Rochman-Rochim juga mendapatkan tali asih berupa tas sekolah dan alat-alat menggambar yang diserahkan oleh Direktur RSUD Dr. Soetomo, dr. Harsono dan Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. Mohammad Nasih SE., M.T., Ak., CMA.

Menurut Prof. Nasih keberhasilan RSUD Dr. Soetomo dalam melakukan operasi-operasi kembar siam ini adalah suatu inovasi tersendiri yang tidak dapat dibandingkan dengan inovasi dalam bentuk fisik.

“Penanganan kasus kembar siam ini menjadi suatu inovasi tersendiri yang tidak dapat dibandingkan dengan inovasi dalam bentuk fisik. Kasus kembar siam yang selalu membutuhkan penanganan berbeda pada tiap kasusnya menjadikan inovasi ini untuk dapat terus berkembang” ungkapnya.

Beliau juga berpesan agar setiap proses penanganan kasus kembar siam untuk selalu dicatat dan ditulis serta dipublikasikan sehingga dapat membantu para dokter dalam menangani kasus-kasus kembar siam di berbagai daerah.

“Hal seperti kasus kembar siam ini sebaiknya selalu dicatat dan ditulis setiap prosesnya dan ilmu yang didapat dari sini kiranya dapat digetok tularkan pada dokter-dokter lain terutama yang berada di luar jawa untuk bisa menangani kasus seperti ini” jelas Prof. Nasih dalam mengakhiri sambutannya.