Operasi Parkinson (Deep Brain Stimulation) Pertama

Senin, 29 Januari 2018, RSUD Dr. Soetomo menggelar operasi Deep Brain Stimulation (DBS) pada pasien Parkinson. Operasi ini merupakan yang pertama kali dilakukan di rumah sakit pemerintah.

“Ini merupakan operasi Deep Brain Stimulation pertama kali dilakukan di rumah sakit pemerintah di Indonesia” ungkap dr. Agus Turchan, Sp.BS (K) selaku Kepala Departemen Bedah Saraf RSUD dr. Soetomo.

Parkinson adalah penyakit yang terjadi akibat degenerasi sel saraf pada otak tengah yang berfungsi mengatur pergerakan tubuh. Sebab itu pasien Parkinson mengalami tremor atau gemetaran yang tidak terkontrol. Hingga saat ini tercatat lebih dari sepuluh juta orang di dunia menderita parkinson.

Penanganan Parkinson menuntut para dokter dan rumah sakit untuk mengembangkan pelayanan kesehatan yang canggih dan kompeten mulai dari proses diagnostik hingga terapi. Tak terkecuali di RSUD Dr. Soetomo.

Selain dapat melakukan operasi Deep Brain Stimulation, kini RSUD Dr. Soetomo juga telah dilengkapi dengan Magnetic Resonance Imaging 3 Tesla (MRI 3T).

MRI 3T sangat membantu dalam pemeriksaan diagnostik pada pasien parkinson dan kasus saraf lainnya. Alat tersebut menghasilkan gambaran yang akurat untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan di dalam tubuh dengan menggunakan medan magnet dan gelombang radio frekuensi.

"Dengan MRI 3T, kami bisa lebih akurat dalam pemeriksaan kasus-kasus saraf," papar Dr. Sri Andreani Utomo, dr., Sp.Rad(K).

Operasi Deep Brain Stimulation yang digelar kemarin dilakukan oleh tim dokter dari Integrated Neurological Disease Unit RSUD dr. Soetomo. Tim yang terdiri dari departemen Neurologi, Bedah Saraf, Radiologi, Anestiologi, Psikiatri dan Rehabilitasi Medik ini dikhususkan dalam menangani dan mengobati pasien dengan penyakit syaraf.

Direktur RSUD dr. Soetomo, dr. Harsono, dalam kesempatan tersebut sangat mengapresiasi usaha tim Integrated Neorological Disease Unit dalam memberikan pelayanan medis kepada masyarakat.

“Nantinya kami juga akan memberikan masukan untuk melakukan revisi penyesuaian terhadap pembiayaan BPJS sehingga pelayanan ini mampu mencakup seluruh kalangan masyarakat,” jelas dr. Harsono dalam acara konferensi pers kemarin.